Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan

Mendiknas Luncurkan Program Komputer untuk Sekolah


Jakarta --- Menteri Pendidikan Nasional, Mohammad Nuh meluncurkan Program Komputer untuk Sekolah (KUS) 2010, pada Selasa, 23 Juli 2010, di Hotel Sultan, Jakarta. Program ini terintegrasi dan berkelanjutan selama lima tahun, berupa pemberian donasi komputer untuk sekolah serta pelatihan dan pendampingan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi (TIK), bagi para pengajar serta jaringan internet.

Program ini merupakan kerja sama PT. XL Axiata Tbk dengan Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas). Program ini bagian dari CSR (Corporate Social Responsibility) PT. XL Axiata Tbk yang berfokus pada bidang pendidikan dengan tema Indonesia Berprestasi.

Dalam sambutannya Mendiknas mengatakan, ada tiga syarat dalam mengurus pendidikan. Syarat itu adalah tidak boleh mengurusi sendiri dalam arti harus terbuka dengan siapa pun, tidak berasumsi, dan tidak menempatkan diri tahu semuanya. "Pendidikan terkait dengan masa depan. Maka, tidak ada satu orang pun memiliki otoritas mutlak untuk memprediksi ke depan seperti apa," kata Menteri Nuh.

Menteri Pendidikan Nasional berterima kasih kepada perusahaan-perusahaan yang turut mendedikasikan sebagian keuntungannya kepada masyarakat, sebagai bagian komitmennya untuk mengembangkan dunia pendidikan. "Sumbangan berapa pun untuk dunia pendidikan tidak ada yang kecil. Sumbangan sekecil apapun, kontribusi sekecil apapun di dalam dunia pendidikan memiliki makna yang luar biasa bagi dunia pendidikan," ujarnya.

Khusus Program KUS 2010, XL akan menyalurkan donasi dalam bentuk komputer sebanyak 200 unit kepada 60 SMP dan SMA di 10 Provinsi. Masing-masing sekolah mendapatkan tiga unit komputer yang telah terkoneksi internet. Untuk menjalankan program ini, XL menggandeng Yayasan Nurani Dunia sebagai pelaksana program, dengan dukungan SUN Microsystem, Huawei, dan Indologistic.

Peluncuran Program KUS dihadiri Hasnul Suhaimi, Presiden Direktur PT. XL Axiata Tbk; Ma Yue, CEO dan Presiden Direktur Huawei Tech Investment; Wibisono Gumulya, President Direktur SUN Microsystem; Rekoyusanto, Presiden Direktur PT. Sentra Indologis Utama, Indologistic, dan Imam Prasodjo dari Yayasan Nurani Dunia. (seno)

Sumber: http://www.kemdiknas.go.id

Presiden: Pendidikan Bukan Hanya Soal Iptek

Jakarta --- Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengingatkan bahwa pendidikan bukan hanya berkaitan dengan ilmu dan pengetahuan. "Tetapi para pendidik, para guru pada hakikatnya juga mendidik anak-anak kita untuk memiliki mental kepribadian yang baik, fisik yang baik, intelek atau kecerdasan yang baik," katanya dalam acara puncak Peringatan Hari Anak Nasional, di Taman Mini Indonesia Indah, pada 23 Juli.

"Melalui pendidikan di sekolah pula, anak-anak kita diajarkan bagaimana hidup bermasyarakat, berbangsa, bernegara yang baik," ucapnya menambahkan. Presiden pun mengingatkan, setelah mendapatkan pendidikan di rumah dan sekolah, anak-anak akan mendapat pendidikan di lingkungan masyarakat. "Anak akan melihat apakah yang diajarkan oleh orang tuanya, yang diajarkan oleh para gurunya, itu pula yang dilihat dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat kita," ucapnya

Menurut Presiden, perlindungan anak dan pendidikan anak akan berhasil manakala berangkat dan disertai dengan kasih sayang kepada mereka. "Kasih sayang dalam arti kepedulian dan perhatian kepada anak-anak kita dan juga tanggung jawab untuk memberikan arah kepada mereka dalam mencapai cita-cita yang di idam-idamkan," tuturnya. (nasrul)


Sumber: http://www.kemdiknas.go.id

Dirjen PNFI Usulkan Lomba Cipta Lagu Anak


Jakarta - Direktur Jenderal Pendidikan Non Formal dan Informal Hamid Muhammad berpesan agar dalam peringatan Hari Anak Nasional tahun depan diadakan lomba yang lebih kreatif dan produktif. "Misalkan lomba membuat animasi anak-anak. Di lingkungan kita kan banyak cerita-cerita rakyat yang itu mengajarkan tentang pendidikan watak, masalah kejujuran, masalah disiplin kemudian contoh yang baik," ucapnya ketika memberikan penghargaan kepada pemenang lomba kreativitas dan kreasi seni dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional 2010, pada Rabu, (21/07) di gedung E lantai 3, kantor Kemdiknas.

Menurut dia, jika lomba animasi belum memungkinkan, paling tidak lomba mengarang cerita rakyat. "Yang bagus kita berikan penghargaan, dikasih hak cipta/copyright dan itu kita terbitkan atau kita beli hak ciptanya terus kita masukkan di website kita, dan itu boleh diproduksi siapa pun untuk kepentingan PAUD (pendidikan anak usia dini)," tuturnya.

Hamid juga menyarankan adanya lomba mencipta lagu anak-anak. "Memang banyak penyanyi cilik tapi nyanyiannya orang dewasa. Kenapa kita tidak bisa melombakan ini, dan saya yakin akan muncul lagu-lagu yang bagus dan itu bisa kita perkenalkan kepada anak-anak," ucapnya.

Pada kesempatan itu, Direktorat Jenderal Pendidikan Non Formal dan Informal memberi penghargaan kepada pemenang lomba kreativitas dan kreasi seni, yang telah dilakukan di lingkungan Kemdiknas. Penghargaan ini diserahkan langsung oleh Hamid Muhammad dengan didampingi Direktur Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Sujarwo Singo Direjo.

Ada 46 pemenang dari tiga kelompok yang dilombakan. Pemenang terbagi atas kelompok lomba jurnalistik. Di kelompok ini, terbaik I diraih Mustopa dari Harian terbit Jakarta Timur, terbaik II Gusnaldi dari Harian Singgalang Padang, terbaik III James Pandopotan Pardede dari Harian Analisa Medan. Lalu, Harapan I Wahyu Kuncoro dari Harian Birawa Surabaya, Harapan II Harjoni Desky dari Harian Aceh Lhokseumawe, Harapan III Erna Yuliawati dari Kabupaten Serang.

Untuk Kelompok Lomba Lembaga PAUD Berprestasi tingkat nasional yaitu kategori Taman Penitipan Anak (TPA), terbaik I diraih oleh TPA Griya Nanda DWP UIN Sunan Kalijaga DI Yogyakarta, terbaik II TPA Ananda Mandiri Kabupaten Tegal, terbaik III diraih TPA Al-Firdaus Kota Bekasi. Lalu, dan Harapan I diraih TPA Rumah Kita Kota Bogor, Harapan II TPA Addiroyah Kabupaten Bandung, Harapan III TPA Al-Ishlah Kota Gorontalo.

Kategori Kelompok Bermain (KB), terbaik I diraih KB Avicenna Kabupaten Tangerang, terbaik II KB Taman Pendidikan Prasekolah Al-Firdaus Kota Surakarta, terbaik III KB Aisyiyah 38 Kabupaten Lamongan, Harapan I KB Uswah Hasanah Perwira Kabupaten Lebak, Harapan II KB Prima Sakinah Kota Bekasi, Harapan III KB Bungan Bangsa Kota Semarang.

Kategori Pos PAUD, terbaik I Pos PAUD Tunas Melati Kota Yogyakarta, terbaik II Pos PAUD Intan Kota Jakarta Utara, terbaik III Pos PAUD Sedap Malam Kota Depok, dan harapan I diraih Pos PAUD Mutiara Kabupaten Karawang, harapan II Pos PAUD Aninda Kota Jakarta Timur, harapan III Pos PAUD Ngudi Rukun Kabupaten Gunung Kidul.

Sedangkan pada Kelompok Pemilihan Organisasi Mitra Berprestasi tingkat Nasional tahun 2010 yaitu kategori HIMPAUDI, terbaik I HIMPAUDI Kota Malang, terbaik II HIMPAUDI Kota Denpasar, dan terbaik III HIMPAUDI Kota Bogor. Kategori FORUM PAUDI, terbaik I FORUM PAUDI Kabupaten Sukabumi, terbaik II FORUM PAUDI Kota Yogyakarta, dan terbaik III FORUM PAUDI Kota Cirebon.

Kategori Muslimat NU, terbaik I Muslimat NU Kabupaten Ciamis, terbaik II Muslimat NU Kota Batu, dan terbaik III Muslimat NU Kabupaten Pekalongan. Kategori Aisiyah, terbaik I Aisiyah Banten, terbaik II Aisiyah Kabupaten Sukohardjo, dan terbaik III Aisiyah Jakarta Selatan.

Kategori Gabungan Organisasi Wanita (GOW), terbaik I GOW Kabupaten Kebumen, terbaik II Kabupaten Kendal, dan terbaik III GOW Kota Cimahi.

Selanjutnya, Kategori PKK, terbaik I TP. PKK Kota Yogyakarta, terbaik II TP. PKK Kota Padang Panjang, dan terbaik III TP. PKK Kabupaten Parigi Moutong. Kategori pemilihan tokoh masyarakat, terbaik I diraih Nur Cholimah, terbaik II Sumijarto, terbaik III Hj. Anna Anggraeni.

Sedangkan untuk kategori penghargaan jalan sesama rencananya akan diserahkan pada puncak peringatan Hari Anak Nasional yang dilaksanakan pada 23 Juli 2010 di Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Penghargaan yang diberikan kepada pemenang yakni berupa uang tunai, trofi, dan piagam penghargaan. (nasrul)

Kak Seto: Penting, Pendidikan Tanpa Kekerasan


JAKARTA --- Kekerasan terhadap anak adalah masalah yang banyak terjadi di dunia, termasuk di negara maju. Ketua Dewan Pembina Komnas Perlindungan Anak, Seto Mulyadi, menjelaskan Hari Anak Nasional 2010 yang mengusung tema "Anak Indonesia Belajar Untuk Masa Depan", dengan subtema "Kami Anak Indonesia, Jujur, Berakhlak Mulia, Sehat, Cerdas dan Berprestasi", diharapkan mampu mengingatkan seluruh orang tua betapa pentingnya pendidikan yang benar tanpa kekerasan kepada anak-anak.

Kak Seto mengatakan, kasus kekerasan terhadap anak sangat tinggi, dan perlindungan anak menjadi bagian dari kepedulian bersama. "Dengan adanya Hari Anak Nasional (HAN), Komnas Perlindungan Anak, dan Undang-Undang Perlindungan Anak, maka kasus kekerasan terhadap anak mulai terbuka dan menjadi sorotan," ujar Kak Seto dalam konferensi pers Hari Anak Nasional 2010 di Gedung Kementerian Pendidikan Nasional, Jumat (16/07).

Direktur Pendidikan Anak Usia Dini selaku Sekretaris Umum Kepanitiaan Hari Anak Nasional 2010, Sudjarwo, Senada dengan Kak Seto. Menurut dia, kekerasan terhadap anak dalam dunia pendidikan juga masih sering terjadi. "Di sekolah-sekolah masih ditemukan kasus murid yang dilempar kapur oleh gurunya," ujar Sudjarwo.

Pendidikan karakter yang dituangkan dalam Rencana Strategis Kemdiknas harus ditanamkan sedini mungkin kepada anak-anak. Dalam usaha tersebut, sudah ada standar PAUD yang berisi peletakan dasar karakter. "Untuk menjadikannya SOP dibutuhkan standar proses," ucapnya.

Puncak Hari Anak Nasional yang jatuh pada Jumat (23/07) akan dilaksanakan di Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Acara tersebut akan dihadiri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, yang sekaligus mencanangkan Gerakan Nasional "Indonesia Sayang Anak". (aline)


Sumber: http://www.kemdiknas.go.id

Akreditasi Dorong Peningkatan Mutu Pendidikan


Jakarta -- Ketua Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah (BAN S/M), Umaedi mengatakan, pada 2007-2009 lembaganya telah mengakreditasi 193.365 satuan akreditasi. Pemerinciannya, 20.299 taman kanak-kanak, 4.045 raudhatul atfal (RA); 65.871 sekolah dasar, 5.652 madrasah ibtidaiyah, 10.873 SMP, 3.694 Madrasah Tsanawiyah, 5.081 SMA dan 1.820 Madrasah Aliah. Lalu, 8.034 program keahlian dan sekolah luar biasa, serta 629 program pendidikan/ketunaan.

Akreditasi ini mengacu pada 8 standar nasional pendidikan (SNP) yakni standar isi, standar proses, standar kompetensi lulusan, standar tenaga pendidik, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan dan standar penilaian pendidikan.

Adapun kriteria sekolah/madrasah yang dinyatakan terakreditasi setelah memenuhi persyaratan. Persyaratan tersebut yakni memperoleh nilai skreditasi sekurang-kurangnya 56, tidak lebih dari dua nilai komponen akreditasi skala ratusan kurang dari 56, dan tidak ada nilai komponen akreditasi skala ratusan kurang dari 40.

Dalam pemeringkatan hasil akreditasi sekolah/madrasah dapat dilakukan yakni untuk peringkat akreditasi A (sangat baik), jika memperoleh nilai akhir (NA) sebesar 86 sampai dengan 100 atau 86?NA?100; untuk peringkat akreditasi B (baik), jika memperoleh nilai akhir (NA) akreditasi sebesar 71 sampai dengan 85 atau 71?NA?85; sedangkan untuk peringkat akreditasi C (cukup baik), jika memperoleh nilai akhir (NA) akreditasi sebesar 56 sampai dengan 70 atau 56?NA?70.

"Gunanya akreditasi adalah mendorong peningkatan mutu pendidikan, karena ini merupakan potret kelayakan sebuah program atau sistem pendidikan sesuai dengan standar yang kita tetapkan," kata Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan), Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas), Mansyur Ramli, saat membuka Seminar Hasil Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah pada 13 Juli, di Hotel Santika, Jakarta. Seminar berlangsung selama dua hari. (nasrul)

Sumber: http://www.kemdiknas.go.id

Kemdiknas Danai 350 Proposal Penelitian Mahasiswa


Jakarta --- Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) kembali menggelar Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS). Tahun ini, 113 perguruan tinggi akan ikut serta. PIMNAS akan berlangsung tanggal 20-24 Juli 2010 di Universitas Mahasaraswati Denpasar, Bali.

Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Nasional Djoko Santoso,mengemukakan, PIMNAS ke-23 ini diikuti 350 tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) hasil penelitian yang lolos seleksi.

"PIMNAS adalah ajang puncak kreativitas mahasiswa Indonesia guna meningkatkan kemampuan mahasiswa sebagai calon intelektual yang profesional," kata Djoko Santoso didampingi Direktur Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Dikti Kemendiknas, Suryo Hapsoro di kantor Kemendiknas, Jakarta, Rabu (14/7).

Menurut Djoko, dari tahun ke tahun kreativitas penelitian mahasiswa meningkat pesat, tahun lalu di ikuti 12.900 peserta. Tahun ini 21.300 proposal yang masuk. Melalui berbagai tahapan seleksi yang dibantu tim ahli akhirnya terpilih 350 proposal penelitian yang turut dibiayai Ditjen Dikti Kemendiknas, dengan dana sekitar Rp 4 miliar.

Tema PIMNAS kali ini adalah "Mengembangkan Kreativitas Untuk Membangun Kemandirian Bangsa." Tujuannya adalah meningkatkan kreativitas dan kepekaan mahasiswa terhadap pengembangan IPTEK, dan seni serta membudayakan iklim kompetitif yang obyektif di lingkungan perguruan tinggi.

Adapun Rektor Universitas, Mahasaraswati Denpasar, Bali, Tjok Sri Ramaswati menyatakan kesiapannya sebagai tuan rumah. "Setelah pembukaan kami akan menampilkan sebuah tarian kolosal terdiri dari anak TK sampai mahasiswa," ujarnya. Jumlah penari mencapai 1.650 orang. Tari Pendhet kolosal ini bakal masuk Museum Rekor Indonesia.

Dia juga menjelaskan, bagi para tim peserta PIMNAS terbaik akan diberikan penghargaan, sebagai berikut: terbaik dalam Presentasi PKM PIMNAS untuk setiap kelas, Terbaik I mendapatkan hadiah sebesar Rp2.000.000, Terbaik II Rp1.500.000, dan Terbaik III Rp1.000.000. Sedangkan terbaik kategori poster PIMNAS, untuk setiap kelas, Terbaik I mendapatkan hadiah Rp1.250.000, Terbaik II Rp1.000.000, dan Terbaik III Rp750.000. (nasrul)

Nuh: Pendidikan dan Olahraga Diintegrasikan


Jakarta --- Menteri Pendidikan Nasional, Mohammad Nuh membuka Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) di Istana Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, pada Selasa 13 Juli.
Olimpiade berlangsung selama enam hari yang telah dimulai sejak Senin (12/7). Kegiatan ini diikuti siswa dan siswi SD, SMP, SMA Negeri dan Swasta dari 33 Provinsi dengan total 3.993 atlet. Mereka adalah para juara di tiap-tiap provinsi.

"Kami akan mengintegrasikan pendidikan dengan olahraga menjadi satu paket" kata Menteri Nuh, sesuai acara pembukaan. Karena itu, pihaknya telah menyediakan bea siswa bagi pemenang olimpiade ini.

Ketua Panitia O2SN, yang juga sebagai Sekretaris Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Bambang Indriyanto, mengatakan kegiatan ini bertujuan mengembangkan bakat dan kreativitas siswa di bidang olahraga dalam rangka membentuk kepribadian yang bugar, jasmani, rohani, kompetitif dan sikap sportif yang dapat menghargai prestasi orang lain.

"Penyelenggaraan O2SN diharapkan dapat mewujudkan cita-cita pembangunan pendidikan Indonesia yakni menciptakan generasi Indonesia yang berkarakter dan mampu membangun keberadaban bangsa," katanya.

O2SN mempertandingkan beberapa cabang olahraga yaitu Tingkat SD: atletik, senam, renang, bulutangkis, sepak bola, voli mini, tenis meja, tenis, karate, pencak silat, dan catur. Tingkat SLB : lari 100 meter, lompat jauh, lempar cakram, balap kursi roda, bulutangkis, catur, dan tenis meja.

Tingkat SMP : atletik, senam, renang, bulutangkis, bola basket, bola volley, tenis meja, tenis, karate, pencak silat, dan catur. Dan, tingkat SMA : atletik, bulutangkis, tenis meja, karate, dan pencak silat. (ali)

Sumber: http://www.kemdiknas.go.id

Pemerintah Sediakan Rp 9,3 Triliun untuk Rehab SD


Jakarta, Kamis (8 Juli 2010)--Pemerintah pada 2010 menyediakan anggaran sebanyak Rp 9,3 Triliun untuk merehabilitasi sekolah dasar (SD). Anggaran itu digunakan untuk merehab sebanyak 138 ribu kelas SD di Indonesia yang masih rusak. Total kebutuhan anggaran yang dibutuhkan sebanyak Rp 14 triliun. Sisa kekurangan anggaran akan disediakan tahun depan.

Hal tersebut disampaikan Wakil Menteri Pendidikan Nasional Fasli Jalal usai menerima peserta Forum Pemimpin Bangsa Muda Nasional 2010 di Kementerian Pendidikan Nasional, Jakarta, Kamis (8/07/2010).

Fasli menyebutkan, jumlah SD termasuk madrasah ibtidaiyah (MI) yang dibangun pada masa SD Inpres sebanyak 178 ribu. Dia mengungkapkan, pada saat itu, karena mengejar target jumlah maka kualitas bangunan sederhana. "Sekarang sekolah itu sudah mulai berguguran dan ini yang kita rehabilitasi setiap tahun. Tahun ini mengeluarkan Rp 9,3 triliun," katanya.

Anggaran tersebut, lanjut Fasli, adalah untuk membangun ruang kelas baru, merekonstruksi, sampai dengan memperbaiki. "Kita harapkan SD-SD yang berguguran itu sudah bisa kita perbaiki," katanya.

Pemerintah, kata Fasli, juga membangun sekolah baru TK/SD satu atap, menambah lokal di SD dan membangun SD/SMP satu atap. Pembangunan sekolah satu atap ini, kata dia, adalah untuk mempermudak akses bagi siswa. "Kita bertekad jarak jangan lebih dari dua kilometer, sebab kalau lebih tidak aksesibel. Terutama di daerah kepulauan," katanya.

Sementara, lanjut Fasli, sekolah-sekolah yang bangunannya tidak permanen akan disediakan guru keliling atau disebut dengan guru kunjung. Para siswa SD, kata dia, tidak perlu keluar pulau atau desa. "Sekolahnya digabung satu atap dengan SMP. Ini cara-cara kita membuat anak-anak bisa mendapatkan akses," ujarnya. Agung.


Sumber: http://www.kemdiknas.go.id

* Home SchoolingMateri Workshop Pemetaan dan Pemanfaatan DataPembelajaran e-Learning Kursus - KursusPembelajaran e-Learning Paket APem

"Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh melantik Prof Dr Djoko Santoso, mantan Rektor Institut Teknologi Bandung menjadi Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kementrian Pendidikan Nasional menggantikan Fasli Jalal yang kini menjabat sebagai Wakil Mendiknas."

JAKARTA, Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh melantik Prof Dr Djoko Santoso, mantan Rektor Institut Teknologi Bandung menjadi Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kementrian Pendidikan Nasional menggantikan Fasli Jalal yang kini menjabat sebagai Wakil Mendiknas.

Mohammad Nuh dalam sambutannya pada acara pelantikan di Jakarta, Selasa petang meminta agar Dirjen Dikti memberikan perhatian penuh pada peningkatan kualitas dosen perguruan tinggi negeri(PTN) dan perguruan tinggi swasta (PTS) melalui kerja sama dengan pihak luar negeri.

"Saya berharap Dirjen Dikti memberi peluang bagi PTS dan PTN untuk meningkatkan kapasitas dosen melalui kerja sama luar negeri utamanya untuk dosen S3," katanya.

Saat ini dari sebanyak 270 ribu dosen , kurang dari 10 persen yang sudah meraih S3. Kalau menunggu kuota dari pemerintah, maka memerlukan waktu cukup lama sehingga percepatan bisa dilakukan dengan kerja sama luar negeri, katanya. Mendiknas lebih lanjut meminta agar Dirjen Dikti memberikan perhatian khusus untuk urusan pelayanan kepada masyarakat.

"Kemdiknas akan melakukan jemput bola sebagai upaya peningkatan kualitas pelayanan kepada pemangku kepntingan, mulai dari perizinan, program studi baru, beasiswa dan seluruh layanan yang dbutuhkan terkait dengam pendidikan tinggi," katanya.

Sementara itu, Djoko Santoso usai pelantikan kepada pers mengatakan, ada sejumlah tugas yang harus diselesaikan sebagai Dirjen Dikti sesuai arahan mendiknas antara lain soal Indeks Prestasi Kumulatif di perguruan tinggi yang masih rendah.

"Sekarang masih 18,3 sementara targetnya itu untuk sampai dengan tahun 2014 harus mencapai 24 persen. Itupun belum tinggi dibandingkan negara lain, artinya harus bisa tingkatkan mutu untuk 400 ribu mahasiswa," katanya.

Ia mengatakan, program tersebut menjadi pekerjaan rumah agar sumber daya manusia Indonesia memenuhi untuk kebutuhan global. Mutu dan relevansi juga harus ditingkatkan, artinya yang dikeluarkan PTN memang yang dbutuhkan masyarakat sehingga tingkat pengangguran menjadi rendah dan masyarakat bisa memeroleh manfaat nyata dari keberadaan PTN.




Sumber: http://edukasi.kompas.com/15 Juni 2010

Pukulan Fisik Picu Penurunan IQ Anak

Pukul anak sebagai medium penyadaran ternyata tidak hanya berdampak buruk terhadap psikologis tetapi juga tingkat kecerdasan. Penelitian yang dilakukan Universitas New Hampshire, AS melaporkan, sebagian besar dari anak yang kerap dipukul orang tua memiliki tingkat intelegensia (IQ) yang rendah."

Pukul anak sebagai medium penyadaran ternyata tidak hanya berdampak buruk terhadap psikologis tetapi juga tingkat kecerdasan. Penelitian yang dilakukan Universitas New Hampshire, AS melaporkan, sebagian besar dari anak yang kerap dipukul orang tua memiliki tingkat intelegensia (IQ) yang rendah.

Lebih dari itu, penelitian juga mencatat hasil lain mengejutkan dimana anak yang mengalami perlakuan keras akan mengalami kesulitan untuk mengikuti jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

"Semua orang tua pasti ingin anak mereka pintar. Penelitian ini menunjukan bagaimana efek negatif dari perlakukan keras orang tua dan koreksi kesalahan perlakuan dilain pihak guna mencegah hal itu terjadi," tukas salah satu peneliti. Murrat Strauss dari Universitas New Hampsphire, AS seperti yang dikutip Yahoonews, pekan lalu.

Penelitian menggunakan metodologi yang menghubungkan antara perlakuan keras dan intelegensia. Metodologi ini mengaitkan sejumlah hubungan lain semisal status ekonomi.

"Anda mungkin akan mengatakan buktikan, tapi saya pikir metode ini akan memberikan berapa laternatif. Saya yakin bahwa perlakukan keras dari orang tua akan membuat perkembangan mental dan kemampuannya menurun secara perlahan," tegasnya.

Penelitian mengambil sampel 1510 anak yang terbagi menjadi dua grup rentang usia. Grup pertama berpopulasi 806 anak dengan rentang usia 2-4 tahun dan grup kedua berpopulasi 704 anak dengan rentang usia 5-9 tahun. Peneliti lalu memberikan tes IQ diawal dan 4 tahun kemudian.

Kedua grup masing-masing terdiri dari anak yang mendapatkan perlakukan keras dan tidak dari masing-masing orang tua anak. Hasilnya, kata Strauss, tercatat hal yang siginifikan. Sebagian dari anak-anak yang mengalami perlakuan keras mengalami keterlambatan perkembangan IQ dari tes awal dan tes lanjutan 4 tahun kemudian. Peningkatan IQ justru terjadi pada anak yang tidak mengalami perlakuan keras.

Menurut Pengamat Anak dan Keluarga dari Duke Univesity, Jennifer Lansford menilai hasil penelitian begitu menarik. Dia juga berpendat, penelitian yang dilakukan memiliki dasar fondasi yang kuat. "Mengacu pada perkembangan anak, dimungkinkan bahwa anak dengan IQ rendah berkaitan dengan masalah displin secara fisik yang berlebih," tukasnya.

Faktor Psikologis

Penelitian lantas mencari cara mengapa IQ anak secara siginifikan mengalami penurunan usai mendapatkan perlakukan keras. Kesimpulan mengacu pada faktor psikologis anak selama mendapatkan perlakuan keras.

"Setiap orang pasti percaya, dipukul oleh orang tua tentu memberikan bekas trauma mendalam pada anak," papar Strauss. Lebih jauh dia menjelaskan, trauma itu berefek stress pada anak saat menghadapi situasi sulit dan kondisi tersebut membuat anak kesulitan mengeluarkan kemampuannya.

"Dengan memukul, orang tua hanya bisa mendapatkan perhatian dan sikap patuh si anak saat dipukul saja. Ini menghalangi anak untuk berpikir bebas," komentar Elizabeth Gershoof, Pakar Anak asal Universitas Texas. Sehingga, kata dia, anak hanya berprilaku benar saat dipukul saja atau anak hanya melakukan sesuatu karena teringat akan pukulan, bukan inisiatif.

Sebab itu, Gershoff menyarankan kepada para orang tua untuk segera menghentikan kebiasaan memukul saat anak melakukan kesalahan atau ketika sikap anak tidak pantas.

By Republika Newsroom


Sumber: http://www.republika.co.id

Aksara Perdamaian

"Aksara merupakan system penulisan suatu bahasa menggunakan tanda-tanda simbol, bukan hanya sebagai huruf atau rangkaian abjad. Aksara merupakan suatu sarana yang menghantar cakrawala pengetahuan dan peradaban suatu bangsa karena aksara membntuk wacana yang dapat dikenali, dipahami, diterapkan dan diwariskan dari suatu generasi kegenerasi berikutnya."

Aksara merupakan system penulisan suatu bahasa menggunakan tanda-tanda simbol, bukan hanya sebagai huruf atau rangkaian abjad. Aksara merupakan suatu sarana yang menghantar cakrawala pengetahuan dan peradaban suatu bangsa karena aksara membntuk wacana yang dapat dikenali, dipahami, diterapkan dan diwariskan dari suatu generasi kegenerasi berikutnya. Oleh karena itu untuk membangun kepekaan terutama terhadap anti kekerasan, keamanan, krisis ekonomi dan bencana alam di dunia saat ini diperlukan kemampuan multi aksara termasuk aksara perdamaian. Keberaksaraan perdamaian dapat membangun peradaban damai dan sejahtera yang merupakan impian kita bersama.
Aksara perdamaian meliputi wacana, wicara, dan wisesa. Wacana perdamaian meliputi Traditional distinctions in peace education are couched in terms of negative and positive peace. Pemahaman dan strategi untuk membangun perdamaian dengan mencegah kekerasan, rasisme, konflik dan kerusakan lingkungan. Wicara atau tutur kata yang disampaikan memuat Peace education operates differently in various global contexts. Tanggung jawab dan keakraban social (social cohesion) dalam konteks kepentingan local, nasional dan global. Wisesa merupakan kuasa yang melahirkan kebajikan dan kebijakan yang diperlukan untuk Peace education is about empowering people with the skills, attitudes, and knowledge: Untuk mewujudkan perdamaian.
Dalam wacana perdamaian diperlukan pemahaman terhadap antikekerasan termasuk anti terror, kontra terror dan tidak rasis sebagai suatu kemampuan untuk hidup damai dalam keakraban social yang dilandasi sikap kasih sayang, toleran, tanggung jawab, saling percaya dan adil. Selanjutnya diperlukan suatu stategi diantaranya kompetensi wicara atau kemam[uan berkomunikasi yang dilandasi berbagai keterampilan, seperti kecermatan mendengarkan, memahami prespektif yang berbeda, dan kecerdasan menciptakan solusi penyelesaian konflik. Wicara perdamaian bersifat kontekstual, misalnya wiacara perdamaian untuk masyarakat yang tidak berperang berbeda konteks dengan masyarakat yang bertikai. Wicara perdamaian bagi masyarakat yang mengalami kekarasan dalam rumah tangga, terror, kejahatan, dan konflik etnis memerlukan wawasan dan konsep-konsep kontekstual berdasarkan penafsiran yang obyektif dan bijak.
Untuk wisesa perdamaian kebajikan adalah teladan yang terpantul dalam tindakan perilaku, pemahaman moral. Sedangkan kebijakan berupa kerangka pemberdayaan individu dan kelompok untuk bekerjasama membangun, memelihara, menyelesaikan dan memulihkan konflik, kekaraban, sosial, to create save environments, both phsycally and emotionally, that nurture each individual, serta lingkungan yang aman dan bebas dari ekploitasi.
Pendidikan berperan dalam menyampaikan aksara perdamaian ini. Sebagaimana kita ketahui terdapat sebagian generasi muda yang terlihat sebagai dan pelaku terorisme, bahkan siap menjadi pelaku bom bunuh diri. Pendidikan perlu berperan untuk menangkal munculnya generasi baru teroris dimasa mendatang, dengan membuat anak menjadi perancang atau pencipta perdamaian di masa datang.
Semua anak dimanapun mereka berada, berbagi kesenangan, keingintahuan, dan potensi hidup damai dalam keakraban sosial yang ramah, damai dan sejahtera. Pendidikan yang kemudian akan menentukan dan membentuk kematangan mereka sehingga mampu mengomunikasikan dan mewujudkan aksara perdamaian termasuk memahami wacana anti teroris dan kontra teroris.
Sebagai bagian dari mewujudkan aksara perdamaian, saat ini momentum yan tepat untuk mendorong pemberdayaan masyarakat dalam membantu pencegahan diri terorisme melalui penyadaran dan pemahaman anti teroris, dua istilah yang kerap digunakan bergantian untuk didefinisikan secara terpisah namun dengan perbedaan yang kabur.
Gerakan anti teroris didefinisikan sebagai langkah-langkah yang pasif fengan membangun kesadaran masyarakat terdekat yang dimaksudkan untuk mengurangi kerentanan seseorang atau sekelompok masyarakat terhadap tindakan teroris. Intinya melalui gerakan anti teroris, masyarakat secara bersama-sama menciptakan sebuag “lingkungan pengamatan yang waspada” untuk mengirim sinyal bahwa “Tidak ada terorisme dalam masyarakat kami”. Sedangkan gerakan kontra terorisme merujuk kepada upaya upaya untuk mengumpulkan informasi yang mencurigakan di tengah masyarakat, menganalisanya serta sesegera mungkin melaporkannya kepada pihak kepolisian.
Hakikat dari kedua gerakan tersebut adalah memberdayakan masyarakat dalam upaya pencegahan dini terorisme sebagai bagian dari aksara perdamaian. Menyerah kan urusan penanggulangan terorisme sepenuhnya hanya kepada aparat pemerintah seperti yang selama ini terjadi, cenderung menghasilkan ketersediaan tempat bagi teroris, walaupun tanpa kesengajaan atau tanpa terdeteksi oleh masyarakat. Hal ini merupakan bukti bahwa masyarakat kurang berperan dan diberdayakan dalam pencegahan terorisme atau dalam perdamaian.
Gerakan penanggulangan teroris tersebut dapat dilakukan terhadap komunitas rentan teroris melalui pendidikan masyarakat yang bersifat nonformal dan informal. Dalam hal ini, Pusat Kegiatan Masyarakat (PKBM), Sanggar KegiatanBelajar (SKB), kelompok belajar, dan satuan satuan pendidikan nonformal sejenis dapat digunakan untuk menyampaiakan aksara perdamaiandan pendidikan pencegahan terorisme melalui modul anti dan kontra terorisme. Modul-modul tersebut akan membantu masyarakat dalam menciptakan suatu kewaspadaan, melindungi masyarakat dari ancaman terror dan mengidentifikasi adanya kelompok teroris di daerahnya. Bahkan modul-modul inipun dapat disebarluaskan dalam kemasan visual melalui komunitas TV local.
Peace education is based on philosophy that teaches non violence, love , compassion, trust, fairness, cooperation and reverence for the humanfamily and all life on our planet.

Oleh: Ella Yulaelawati. R, Ph.D


Sumber: Jurnal Indonesia

 
PADATIWEB BNSP NPSN NISN Kementerian Pendidikan Nasional

Bermanfaatkah Masa Orientasi Siswa bagi siswa baru?